Kamis, 12 Januari 2012

Mengapa Ada Poros Jakarta – Peking?

 
Bung Karno dan komunis. Ini adalah topik klasik. Terlebih, penggulingan Bung Karno melalui Tap MPR XXX/1967 diartikan sebagai keterlibatan Bung Karno, langsung atau tidak langsung terhadap tragedi G-30-S. Singkat kata, hingga akhir hayatnya, ada upaya nyata untuk melekatkan stigma komunis kepada Sang Proklamator. Semua upaya tadi, bahkan menabrak logika ketatanegaraan, menafikan fakta-fakta yang ada. 

Nah, salah satu hal yang sering dikaitkan sebagai “bukti” Sukarno –setidaknya– pro komunis adalah penciptaan istilah Poros Jakarta – Peking. Tanpa mengkaji latar belakangnya, tanpa menelisik asal-usul, tanpa menganalisa pertimbangan ke depan, spontan saja poros Jakarta – Peking diterjemahkan sebagai upaya menggelindingkan bangsa ini lebih pro terhadap komunis. 

Belum lagi pertemuan yang intensif antara Bung Karno dan Perdana Menteri RRC, Chou Enlai. Pertemuan di Beijing (dulu bernama Peking), Jakarta, Bali, di Beograd dan di dalam kesempatan lain di luar negeri, lebih-lebih memperlihatkan betapa “mesra” hubungan Bung Karno dan Chou Enlai. Bahkan ada yang membaca sebagai “hubungan spesial” Indonesia- Cina. 

Apa gerangan yang mengakibatkan Bung Karno begitu dekat dengan Presiden Mao Zedong dan/atau PM Chou Enlai? Kedekatan ini khususnya sejak tahun 1960-an. Sebeb, periode sebelum dekat dengan Cina, dunia pun mengetahui kalau Bung Karno dekat dengan Kruschev, atau bisa dibaca sebagai Indonesia dekat dengan Uni Soviet. 


Jika kita telisik sejarah, kedekatan Bung Karno dengan Mao maupun Chou tak lain karena “proyek” NEFO (New Emergong Forces). Cina sangat mendukung Indonesia (baca=Bung Karno) memimpin gerakan NEFO. Bahkan waktu itu, Bung Karno sudah merancang konferensi NEFO (CONEFO) di Jakarta. Jika ini terwujud, lebih separuh belahan bumi, akan berhimpun.
Tak bisa dipungkiri, gerakan itu sangat tidak disukai Amerika Serikat (dan sekutunya), bahkan juga tidak disukai oleh Uni Soviet. Amerika dan sekutu kapitalisnya sangat keberatan negara-negara baru ini lepas dari cengkeraman mereka. Sebaliknya, Uni Soviet yang menempatkan diri sebagai pusat komunisme internasional (komintern) sangat tidak senang posisi itu kemudian seperti diambil-alih oleh Cina. 

Inilah yang nanti berujung pada konspirasi internasional sehingga meletus G-30-S. Inilah sebuah potret dan tinjauan dari kacamata internasional terhadap upaya pendongkelan Sukarno dan proyek CONEFO-nya. (roso daras) 

Sumber : http://rosodaras.wordpress.com

“PBB di mata Bung Karno”


“Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!”, atau “Go to hell with your aid” yang ditujukan kepada Amerika.

“Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu”, yang ini saat Indonesia berkonfrontasi dengan di negara boneka bernama Malaysia. 

Bukan hanya itu. Organisasi dunia yang bernama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun pernah dilawan. Tanggal 20 Januari 1965, Bung Karno menarik Indonesia dari keanggotaan PBB. Ini karena ketidak-becusan PBB dalam menangani persoalan anggota-anggotanya, termasuk dalam kaitan konflik Indonesia – Malaysia. Ada enam alasan yang tak bisa dibantah siapa pun, termasuk Sekjen PBB sendiri, yang menjadi dasar Indonesia menarik diri dari keanggotaan PBB. 

Pertama, soal kedudukan PBB di Amerika Serikat. Bung Karno mengkritik, dalam suasana perang dingin Amerika Serikat dan Uni Sovyet lengkap dengan perang urat syaraf yang terjadi, maka tidak sepatutnya markas PBB justru berada di salah satu negara pelaku perang dingin tersebut. Bung Karno mengusulkan agar PBB bermarkas di Jenewa, atau di Asia, Afrika, atau daerah netral lain di luar blok Amerika dan Sovyet. 

Kedua, PBB yang lahir pasca perang dunia kedua, dimaksudkan untuk bisa menyelesaikan pertikaian antarnegara secara cepat dan menentukan. Akan tetapi yang terjadi justru PBB selalu tegang dan lamban dalam menyikapi konflik antar negara. Indonesia mengalami dua kali, yakni saat pembebasan Irian Barat, dan Malaysia. Dalam kedua perkara itu, PBB tidak membawa penyelesaian, kecuali hanya menjadi medan perdebatan. Selain itu, pasca perang dunia II, banyak negara baru, yang baru saja terbebas dari penderitaan penjajahan, tetapi faktanya dalam piagam-piagam yang dilahirkan maupun dalam preambule-nya, tidak pernah menyebut perkataan kolonialisme. Singkatnya, PBB tidak menempatkan negara-negara yang baru merdeka secara proporsional. 

Ketiga, Organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan tahun 1945, tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara sosialis serta munculnya perkembangan cepat kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika. Mereka tidak diakomodir karena hak veto hanya milik Amerika, Inggris, Rusia, Perancis, dan Taiwan. Kondisi yang tidak aktual lagi, tetapi tidak ada satu orang pun yang berusaha bergerak mengubahnya.
Keempat, soal sekretariat yang selalu dipegang kepala staf berkebangsaan Amerika. Tidak heran jika hasil kebijakannya banyak mengakomodasi kepentingan Barat, setidaknya menggunakan sistem Barat. Bung Karno tidak dapat menunjung tinggi sistem itu dengan dasar, “Imperialisme dan kolonialisme adalah anak kandung dari sistem Negara Barat. Seperti halnya mayoritas anggota PBB, aku benci imperialisme dan aku jijik pada kolonialisme.” 

Kelima, Bung Karno menganggap PBB keblinger dengan menolak perwakilan Cina, sementara di Dewan Keamanan duduk Taiwan yang tidak diakui oleh Indonesia. Di mata Bung Karno, “Dengan mengesampingkan bangsa yang besar, bangsa yang agung dan kuat dalam arti jumlah penduduk, kebudayaan, kemampuan, peninggalan kebudayaan kuno, suatu bangsa yang penuh kekuatan dan daya-ekonomi, dengan mengesampingkan bangsa itu, maka PBB sangat melemahkan kekuatan dan kemampuannya untuk berunding justru karena ia menolak keanggotaan bangsa yang terbesar di dunia.”

Keenam, tidak adanya pembagian yang adil di antara personal PBB dalam lembaga-lembaganya. Bekas ketua UNICEF adalah seorang Amerika. Ketua Dana Khusus adalah Amerika. Badan Bantuan Teknik PBB diketuai orang Inggris. Bahkan dalam persengketaan Asia seperti halnya pembentukan Malaysia, maka plebisit yang gagal yang diselenggarakan PBB, diketuai orang Amerika bernama Michelmore. 

Bagi sebagian kepala negara, sikap keluar dari PBB dianggap sikap nekad. Bung Karno tidak hanya kelua dari PBB. Lebih dari itu, ia membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces/ Conefo) sebagai alternatif persatuan bangsa-bangsa selain PBB. Konferensi ini sedianya digelar akhir tahun 1966. Langkah tegas dan berani Sukarno langsung mendapat dukungan banyak negara, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Bahkan sebagian Eropa juga mendukung. 

Sebagai tandingan Olimpiade, Bung Karno bahkan menyelenggarakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10 – 22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing. 

Bung Karno dengan Conefo dan Ganefo, sudah menunjukkan kepada dunia, bahwa organisasi bangsa-bangsa tidak mesti harus satu, dan hanya PBB. Bung Karno sudah mengeluarkan terobosan itu. Sayang, konspirasi internasional (Barat) yang didukung segelintir pengkhianat dalam negeri (seperti Angkatan ’66, sejumlah perwira TNI-AD, serta segelintir cendekiawan pro Barat, dan beberapa orang keblinger), berhasil merekayasa tumbangnya Bung Karno.
Wallahu a’lam. (roso daras) 

Sumber : http://rosodaras.wordpress.com

Kekuatan Raksasa Militer Indonesia 1960

1960-an, Era Presiden Sukarno.

kekuatan militer Indonesia adalah salahsatu yang terbesar dan terkuat di dunia. Saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia, dan Amerika sangat khawatir dengan perkembangan kekuatan militer kita yang didukung besar-besaran oleh teknologi terbaru Uni Sovyet. 1960, Belanda masih bercokol di Papua. Melihat kekuatan Republik Indonesia yang makin hebat, Belanda yang didukung Barat merancang muslihat untuk membentuk negara boneka yang seakan-akan merdeka, tapi masih dibawah kendali Belanda. Presiden Sukarno segera mengambil tindakan ekstrim, tujuannya, merebut kembali Papua. Sukarno segera mengeluarkan maklumat “Trikora” di Yogyakarta, dan isinya adalah:

1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda.

2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.

Berkat kedekatan Indonesia dengan Sovyet, maka Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar. Saat ini, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi selatan.

Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu adalah salahsatu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebesar 1270 orang termasuk 60 perwira. Sovyet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia. (kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1600 ton). Angkatan udara Indonesia juga menjadi salahsatu armada udara paling mematikan di dunia, yang terdiri dari lebih dari 100 pesawat tercanggih saat itu. Armada ini terdiri dari :
1. 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed.
2. 30 pesawat MiG-15.
3. 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17.
4. 10 pesawat supersonic MiG-19.

Pesawat MiG-21 Fishbed adalah salahsatu pesawat supersonic tercanggih di dunia, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara Belanda masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II seperti P-51 Mustang.

Sebagai catatan, kedahsyatan pesawat-pesawat MiG-21 dan MiG-17 di Perang Vietnam sampai mendorong Amerika mendirikan United States Navy Strike Fighter Tactics Instructor, pusat latihan pilot-pilot terbaik yang dikenal dengan nama TOP GUN.

Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). Ini membuat Indonesia menjadi salahsatu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Surabaya.

Bahkan China dan Australia pun belum memiliki pesawat pembom strategis seperti ini. Pembom ini juga dilengkapi berbagai peralatan elektronik canggih dan rudal khusus anti kapal perang AS-1 Kennel, yang daya ledaknya bisa dengan mudah menenggelamkan kapal-kapal tempur Barat.
Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan kapal tempur kelas Corvette, 9 helikopter terbesar di dunia MI-6, 41 helikopter MI-4, berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut berat Antonov An-12B. Total, Indonesia mempunyai 104 unit kapal tempur. Belum lagi ribuan senapan serbu terbaik saat itu dan masih menjadi legendaris sampai saat ini, AK-47.

Ini semua membuat Indonesia menjadi salasahtu kekuatan militer laut dan udara terkuat di dunia. Begitu hebat efeknya, sehingga Amerika di bawah pimpinan John F. Kennedy memaksa Belanda untuk segera keluar dari Papua, dan menyatakan dalam forum PBB bahwa peralihan kekuasaan di Papua, dari Belanda ke Indonesia adalah sesuatu yang bisa diterima.

sumber: kaskus.us

“ MARXISME “

SEKILAS TENTANG MARXISME BAG. I

PRA-MARXISME

bagi masyarakat awam yg terpropaganda kapitalisme, atau para penganut neo-liberalisme, atau para ekonom kontra ekonomi kerakyatan, atau masyarakat kapitalisme, akan mengatakan bahwa ide dan konsep sosialisme berdasarkan tujuannya (untuk penghapusan kelas sosial) adalah utopis (karena biar bagaimanapun juga, kaya dan miskin selalu ada).... padahal, bila mengikuti cara berpikir filsuf atau melirik para orang bijak, ideologi dan konsepsi apapun bila mengatasnamakan tujuan "kesejahteraan" adalah utopia semua. ... kita sering lupa, bahwa kesejahteraan tidak dapat diukur oleh nominal apapun, baik berupa uang maupun materi.... seperti halnya kebahagiaan dan kenikmatan.... 

di sinilah, Karl Marx (1818-1883) mengkritik tentang upaya penindasan masyarakat oleh kapitalis yg membuat masyarakat jauh dari arti "kesejahteraan"... ya, dialah Marx yg saat ini dimusuhi kaum theis sebagai "Sang Iblis Atheis Yahudi", namun semangat revolusi yg menggelora dlm dirinya selalu berkobar dlm diri pergerakan kaum buruh dan tani meskipun para buruh dan tani masa kini jarang mendengar atau tidak tahu sama sekali siapa itu Marx..... filsuf Paul Feyerabend pun pernah menggambarkan sosok Marx sbb: "apabila Nietzsche yg dijuluki sang rajawali filsuf itu adalah seorang filsuf yg mampu mengubah cara berpikir filsuf lain, maka Marx adalah seorang filsuf yg tidak hanya mengubah cara berpikir filsuf lain, tapi juga mengubah cara manusia bertindak"...


pemikiran ekonomi Marx banyak dipengaruhi oleh beberapa filsuf ekonomi, antara lain François Quesnay dan David Ricardo... sebelum membahas ttg epistemologi dan konsepsi Marx, ada baiknya kita kembali ke pemikir ekonomi "kiri" di zaman Pra-Klasik (Mazhab Physiokrasi), yaitu François Quesnay.... 

setelah agan baca ttg kapitalisme di atas, sebenarnya antara Zaman Pra-Klasik menuju Zaman Klasik, ada sebuah mazhab pemikir ekonomi kiri yg disebut Mazhab Physiokrasi yg dipelopori oleh François Quesnay (1694-1774)... 

analisis physiokratis pada hakekatnya adalah kegiatan ekonomi berjalan menurut suatu pola arus lingkaran (circular flow) yg menyangkut peredaran uang dan barang (teori equilibrium-nya Adam Smith mungkin dipengaruhi oleh konsep ini)... jika merkantilisme mementingkan sektor penguasaan pasar yg melahirkan surplus terus-menerus, maka physiokrasi mementingkan sektor pertanian yg bahkan sektor pertanian dianggap sbg satu-satunya sektor produktif yg menghasilkan suatu surplus produksi secara netto utk masyarakat (produit net)... kata "physiokrasi" pun diambil dari 2 kata dlm bahasa Yunani; f?s?? (fysis) = alam, dan ??at?a (kratia) = kekuatan... jadi, falsafah dasar physiokrasi adalah the natural order of things atau the order of things according to natural law...
pada mulanya, kebenaran atas mazhab physiokrasi ini masih ditangguhkan sampai manusia mengenal teknologi... ya, pendapat ini kemudian dibantah oleh ekonom-ekonom modern seperti Wassily Leontief, Eugen von Böhm-Bawerk, John Maynard Keynes, dll... di zaman dahulu, pangan memang salah satu aset terpenting sebuah negara dlm mengekspor atau diproduksi dan distribusi sebuah negara, namun dlm ekonomi pembangunan saat ini, harus kita sadari bahwa suatu negara yg ingin maju, haruslah beralih dari sektor produksi pangan (karena selain pangan bisa membusuk dan proses produksinya amat dipengaruhi oleh berbagai keadaan alam, dlm teori Hubungan Internasional, militer dan teknologi merupakan faktor pengaruh terbesar dlm meningkatkan posisi tawar suatu negara).... 

namun sebenarnya, physiokrasi tidak membahas masalah ekspor sektor pangan, hanya bagaimana menata produksi dlm keseimbangan dlm arus, yg dlm hal ini produksi pangan merupakan nilai utama ketimbang hal lainnya.... oleh sebab itu, Marx menilai Quesnay sebagai pemikir yg pertama kalinya menyajikan suatu gambaran secara mendasar mengenai proses ekonomi dalam kehidupan masyarakat secara universal.... di sinilah teori Marxis ttg nilai dan surplus, tapi untuk teori Marxis ttg nilai dan upah, Marx berpangkal pd David Ricardo...

SEKILAS TENTANG MARXISME BAG. II

PROSES "PEMERASAN"

bagaimana terjadinya proses "pemerasan" terhadap kaum proletar (buruh dan buruh tani)? di sinilah betapa luasnya pemikiran Marx... Marx menilai bahwa tenaga kerja (labor) dianggap sbg suatu komoditi yg ngga ada bedanya dgn jenis2 komoditi lainnya, Marx mewakilinya W = barang (ware)... W dijual utk mendapat G = uang (geld) dan G itu digunakan utk membeli komoditi lain, disebut olehnya W1 dan modelnya adalah W - G - W1

dia membandingkan dgn kapitalisme, dimana dana modalnya (G) diproses dgn bantuan tenaga kerja dan alat-alat produksi (G) sehingga hasilnya dijual lagi utk menjadi modal (G1) dan modelnya adalah G - W - G1

dlm kerangka pemikiran Marx, beda antara W - G - W1 dgn G - W - G1 mengandung arti dan relevansi yg amat penting... dari sini, kita sudah dapat poin penting, yaitu dlm susunan ekonomi sederhana, sasaran produksi adalah suatu transformasi kualitatif dari nilai guna, TAPI dlm ekonomi kapitalisme, sasaran produksi adalah PENAMBAHAN KUANTITATIF dari nilai tukar... atau dibahasa-awam-kan, sasaran produksi ekonomi sederhana adalah perubahan nilai guna (mutu atau kualitas) suatu barang, tapi sasaran produksi ekonomi kapitalisme adalah penambahan jumlah barang dan uang (memperkaya diri sendiri).... ya, poin penting dari Marx di sini adalah kapitalisme adalah bentuk memperkaya diri sendiri atau korporasinya....
dimanakah letak pemerasannya? 

seorang majikan kapitalis membeli tenaga kerja dgn harga yg sesuai dgn nilai komoditi tenaga kerja (sesuai yg di atas, bahwa tenaga kerja dipandang sbg komoditi), majikan kapitalis membayar kpd tenaga kerja suatu tingkat upah yg sama dgn sejumlah barang kebutuhan hidup yg diperlukan utk kelangsungan hidup tenaga kerja dan keluarganya (gaji, asuransi, jaminan kesehatan, biaya akomodasi, tunjangan lainnya)... utk menghasilkan barang kebutuhan hidup tsb, sebenarnya seorang tenaga kerja cukup utk bekerja selama 6 jam per hari, tapi telah dikontrak sang majikan kapitalis sebanyak 8-10 jam per hari.... nah, kelebihan produksi dari hasil ekstra 2 jam (bila dikontrak 8 jam) dan 4 jam (bila dikontrak 10 jam) tidak dinikmati oleh tenaga kerja, melainkan dinikmati sang majikan kapitalis... di sinilah letak nilai surplus yg "dipetik" oleh majikan kapitalis... pemerasan dimulai dari sini dan saya yakin hampir semua pegawai sampai buruh kasar tidak menyadari hal ini... 

sehari kerja terbagi atas 2 bagian, bagian pertama meliputi 6 jam kerja menghasilkan nilai produk yg sama dgn upah tenaga kerja (necessary labor) utk reproduksi tenaga kerja sbg komoditi... bagian kedua meliputi kelebihan 2-4 jam ekstra time yg tdk dinikmati tenaga kerja, yg disebut Marx menjadi nilai surplus yg dipetik majikan kapitalis... rasio hasil kerja surplus (s) terhadap jumlah tenaga kerja upahan (v) yg digambarkan Marx sbg tingkat nilai surplus (s/v)... dalam hal ini, sang majikan surplus terhadap value added...

nilai suatu komoditi menurut Marx adalah barang akhir yg terdiri atas 3 komponen; yaitu unsur dan akumulasi penyusutan peralatan modal, nilai tenaga kerja upahan, dan nilai surplus di atas... komponen pertama disebut modal konstanta (c), komponen kedua disebut modal variabel (v), dan komponen ketiga adalah nilai surplus (s), nilai total suatu komoditi dapat dinyatakan dlm rumus c+v+s; rasio nilai surplus terhadap modal total adalah s/c+v yg mencerminkan tingkat laba (rate of profit)... rasio modal konstan terhadap modal total adalah c/c+v yg dikenal dlm istilah Marxisme sebagai die organische komposition des kapitals (komposisi organik modal)... jika s' adalah tingkat nilai surplus, p = tingkat laba, dan q = komposisi organik modal di atas, maka p = s' (1-q) yg artinya tingkat laba menjurus ke arah yg sejalan dgn perkembangan tingkat nilai surplus (menaik bila tingkat nilai surplus bertambah dan menurut bila tingkat nilai surplus berkurang)... dgn kata lain, perkembangan kapitalisme ditandai semakin besarnya komposisi organik modal... jadi, dalam konsep Marx inilah, tingkat nilai surplus (s/v) merupakan "proses pemerasan"....

masih belum sampai pd pemerasan, yg mencengangkan dlm Marxisme adalah tingkat laba (yang dinyatakan dlm s/c+v atau p=s'(1-q) di mana s' adl tingkat nilai surplus dan q adl komposisi organik modal) cenderung menurun... tenaga kerja manusia rata2 dilengkapi dgn peralatan mesin mutakhir dan juga mahal (semakin mutakhir semakin mahal), namun dapat menghasilkan komoditi dlm jumlah yg lebih banyak, tapi tingkat laba jelas menurun... bagaimana bisa? misalnya, s' bertambah bila produktivitas tenaga kerja meningkat... akan tetapi, dlm jangka panjang meningkatnya komposisi organik dari modal ga bisa dihindari.... maka dari itu, tingkat laba pun juga semakin menurun... 

APA SOLUSI MARXISME? 

solusi yg ditawarkan Marx adalah kepemilikan bersama (secara kommunal) dan penguasaan aset utk kaum proletar (sosialisme)... dlm hal ini, negara2 komunis telah banyak salah mengambil sistem Marx, atau telah memfusikan konsepsi Marxisme dgn konsep lainnya... misalnya, ketiadaan kepemilikan individu yg dipandang mengekang kebebasan (Marxis tidak berusaha mengekang kebebasan, selama dipandang dibutuhkan secara individual, bukan utk "memeras", Marxisme masih mengizinkannya... namun sayangnya hal itu amat sulit dilaksanakan, sebab manusia tetap lebih cerdik daripada sebuah ideologi yg disebut Marxisme itu)... selain itu, Marx menegaskan bahwa sebenarnya ideologi Marxisme juga merupakan ekonomi sederhana sejak dahulu, dimana kegiatan sebatas produksi-distribusi-konsumsi (bukan konsumsi-pemerasan-produksi)...
Marx menegaskan bahwa untuk menumbangkan raksasa kapitalisme, diperlukan perjuangan kelas yg disebut revolusi (sebenarnya, revolusi sudah dari dulu ada... namun, revolusi sebagai aksi politik yg berkelanjutan baru diperkenalkan Marx)... ya! revolusi itu berkelanjutan, yaitu dimulai dari revolusi politik, lalu revolusi ekonomi, dan terakhir revolusi budaya.... bagi Marx, revolusi yg seutuhnya bermakna adalah apabila ketiga langkah ini dilaksanakan... dan bagi Marx, revolusi inilah satu-satunya revolusi dan revolusi ini disebut revolusi buruh...
dalam sejarah, setiap revolusi buruh selalu diakhiri secara politik dan ekonomi dgn bentuk pemerintahan diktator proletariat (yaitu bentuk autokrasi atau totalitarianisme ala kaum proletar) yg "mulanya" bertujuan menindas kapitalisme... namun, belakangan (contoh: USSR) lebih sering menindas kaum buruh juga... ini yg kemudian di-anti-tesis-kan oleh Post-Marxisme (yg terkesan lebih moderat, lebih mentereng, lebih necis, dan ideologi politik yg ditawarkan adalah biasanya sosial-demokrat)... 

oleh sebab itu, Marx berpendapat bahwa pembentukan kepemilikan bersama berazaskan kekeluargaan dan persatuan (kommunal) akan diawali oleh negara sbg fasilitas menuju masyarakat komunis... namun, negara itu akan lenyap dengan sendirinya apabila kelas sosial sudah tidak ada lagi di atasnya... baginya, negara adalah sumber penindasan sehingga harus dihapuskan.... namun negara bisa menjadi alat yang merupakan transisi untuk penghapusan negara dan membentuk presidium... 

Marx mendefinisikan masyarakat komunis sbg suatu sistem masyarakat dimana setiap orang bekerja menurut kemampuannya sendiri dan kepada setiap orang memperoleh kebutuhan hidup menurut kebutuhannya.... berdasarkan konsep politik ini, Marxisme sebenarnya lebih cenderung anarkisme... 

Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?p=350316954#post350316954