Selasa, 07 Februari 2012

Konfrensi Asia Afrika (KAA) di Bandung


Tidakkah kita, bangsa Indonesia, ikut pula hatinya berdebar-debar, kalau kita mendengar kabar tentang majunya usaha Ghasi Zaglul Pasha membela Mesir ? Tidakkah kita ikut berhangatan darah, kalau kita mendengar kabar tentang hebatnya pergerakan Mohandas Karamchand Gandhi atau Chita Ranjau Das membela India ?

Tidakkah kita berbesar hati pula, menjadi saksi atas hasilnya usaha Dr. Sun Yat Sen, “Mazzini Negeri Tiongkok” itu ?

Bahwasanya, kebahagiaan yang melimpahi Negeri-negeri Asia kita rasakan sebagai melimpahi diri kita sendiri; malangnya negeri-negeri itu adalah malangnya negeri kita pula. Wafatnya Zaglul Pasha, wafatnya C.R. Das, wafatnya Dr. Sun Yat Sen tak luputlah menjadikan pula hati kita berkabung dan merasakannya sebagai kehilangan pemimpin sendiri; dan kabar-kabar tentang mundurnya pergerakan di India atau kacaunya susunan kaum nasionalis Tiongkok tahun yang lalu tak luputlah pula memasgulkan hati kita semua...
Di dalam menentang imperialisme Inggris dan lain sebagainya itu, maka rakyat Mesir, rakyat India, rakyat Tiongkok, dan rakyat Indonesia adalah berhadapan dengan satu musuh; mereka adalah kawan senasib, kawan seusaha, kawan sebarisan, yang perjalanannya harus rapat satu sama lain, rapat menjadi satu umat Asia yang seiman dan senyawa. Jikalau bersama-sama umat Asia ini menjalankan serangannya terhadap benteng imperialisme yang kokoh dan kuat itu; jikalau bersama-sama pada suatu ketika semua rakyat Asia itu masing-masing dalam negerinya mengadakan perlawanan yang hebat sebagai gelombang taufan terhadap benteng-benteng imperialisme itu, maka tidak boleh tidak, benteng itu pastilah rubuh pula karenanya.

- Soekarno, 1928
Berakhirnya Perang Dunia II pada Agustus 1945, tidak berarti berakhir pula situasi permusuhan di antara bangsa-bangsa di dunia. Di beberapa belahan dunia masih ada masalah dan muncul masalah baru.
Penjajahan yang dialami oleh negara-negara di kawasan Asia dan Afrika merupakan masalah krusial sejak abad ke-15. Walaupun sejak tahun 1945 banyak negara, terutama di Asia, kemudian memperoleh kemerdekaannya, seperti : Indonesia (17 Agustus 1945), Republik Demokrasi Vietnam (2 September 1945), Filipina (4 Juli 1946), Pakistan (14 Agustus 1947), India (15 Agustus 1947), Birma (4 Januari 1948), Ceylon (4 Februari 1948), dan Republik Rakyat Tiongkok (1 Oktober 1949), namun masih banyak negara lainnya yang berjuang bagi kemerdekaannya seperti Aljazair, Tunisia, Maroko, Kongo, dan di wilayah Afrika lainnya. Beberapa Negara Asia Afrika yang telah merdeka pun masih banyak yang menghadapi masalah sisa penjajahan. Selain itu konflik antarkelompok masyarakat di dalam negeri pun masih berkecamuk akibat politik devide et impera.
Lahirnya dua blok kekuatan yang bertentangan secara ideologi, yaitu Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat (kapitalis) dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Sovyet (komunis), semakin memanaskan situasi dunia. Perang Dingin berkembang menjadi konflik perang terbuka, seperti di Jazirah Korea dan Indo-Cina. Perlombaan pengembangan senjata nuklir meningkat. Hal tersebut menumbuhkan ketakutan dunia akan kembali dimulainya Perang Dunia.
Walaupun pada masa itu telah ada badan internasional yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berfungsi menangani masalah dunia, namun pada kenyataannya badan ini belum berhasil menyelesaikan persoalan tersebut, sementara akibat yang ditimbulkan oleh masalah-masalah ini sebagian besar diderita oleh bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.
Pada awal tahun 1954, Perdana Menteri Ceylon, Sir John Kotelawala, mengundang para perdana menteri dari Birma (U Nu), India (Jawaharlal Nehru), Indonesia (Ali Sastroamidjojo), dan Pakistan (Mohammed Ali) dengan maksud mengadakan suatu pertemuan informal di negaranya. Undangan tersebut diterima baik oleh semua pemimpin pemerintah negara tersebut.
Pada kesempatan itu, Presiden Indonesia, Soekarno, menekankan kepada Perdana Menteri Indonesia, Ali Sastroamidjojo, untuk menyampaikan ide diadakannya Konferensi Asia Afrika pada pertemuan Konferensi Kolombo tersebut. Beliau menyatakan bahwa hal ini merupakan cita-cita bersama selama hampir 30 tahun telah didengungkan untuk membangun solidaritas Asia Afrika dan telah dilakukan melalui pergerakan nasional melawan penjajahan.

PERTEMUAN TUGU (Tugu, 9 – 22 Maret 1954)

Menteri Luar Negeri Indonesia Soenario, memimpin pertemuan para Kepala Perwakilan Indonesia se-Asia, Afrika, dan Pasifik
Sehubungan dengan diundangnya Indonesia oleh Perdana Menteri Ceylon, maka Pemerintah Indonesia mengadakan suatu pertemuan yang dihadiri oleh para kepala perwakilan Indonesia di Asia, Afrika, dan Pasifik, bertempat di Wisma Tugu, Puncak, Jawa Barat.
Pertemuan ini diketuai oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Sunario, membahas rumusan-rumusan yang akan menjadi bahan bagi Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dalam forum Konferensi Kolombo, sebagai dasar usulan Indonesia untuk meluaskan gagasan kerja sama regional di tingkat Asia Afrika.
Rumusan hasil Pertemuan Tugu :

  1. menolak pembentukan dua blok di dunia : Blok Barat dan Blok Timur, serta menolak ikut serta dalam aktivitas dua kekuatan besar tersebut;
  2. mengusulkan untuk membentuk kelompok yang memperjuangkan kemerdekaan dan kemakmuran dalam sebuah kerja sama yang didasari oleh kepentingan bersama untuk melawan kekuatan imperialis-kolonialis;
  3. mengusahakan terselenggaranya konferensi anti imperialis-kolonialis;
  4. meyakinkan peserta untuk memperhatikan sikap politik dunia dan kerja sama Asia Afrika;
  5. membawa kebijakan luar negeri yang bebas aktif dan kebijakan bertetangga baik.


KONFERENSI KOLOMBO (Kolombo, 28 April – 2 Mei 1954)

Gedung Parliament Ceylon, tempat berlangsungnya Konferensi Kolombo
Konferensi Kolombo diselenggarakan atas inisiatif Perdana Menteri Ceylon (Sir John Kotelawala), dan dihadiri oleh Perdana Menteri Birma (U Nu), Perdana Menteri India (Jawaharlal Nehru), Perdana Menteri Indonesia (Ali Sastroamidjojo), dan Perdana Menteri Pakistan (Mohammed Ali). Konferensi tersebut berlangsung di Kolombo.
Sir John Kotelawala pada pembukaan Konferensi Kolombo menyatakan bahwa tidak ada agenda formal yang disiapkan untuk konferensi ini, tetapi ada beberapa masalah penting dan cukup mendesak yang perlu dibicarakan. Masalah dimaksud diantaranya :

  1. konflik Indo-China yang mengancam keamanan dan perdamaian di Asia dan di seluruh dunia;
  2. agresi komunis internasional di Asia;
  3. persoalan kolonialisme di berbagai belahan dunia;
  4. perlombaan senjata yang mengancam penghancuran secara masal.

Suasana pada Konferensi Kolombo

Pada sidang yang ke-6, tanggal 30 April 1954, Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo berkesempatan mengajukan usulan agar diselenggarakan : “Suatu konferensi yang sama hakikatnya dengan Konferensi Kolombo sekarang, tapi lebih luas jangkauannya dengan tidak hanya memasukkan Negara-negara Asia, tetapi juga Negara-negara Afrika lainnya”.
Reaksi pertama atas usul Indonesia ini sangat skeptis dan pesimis. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat Indonesia untuk merealisasikannya. Hal ini terlihat dalam pernyataan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo yang berkata:“Saya akan merasa puas apabila Konferensi Kolombo dapat menyetujui bahwa Indonesia akan mensponsori sendiri Konferensi Asia Afrika demikian”
Ketetapan hati delegasi Indonesia ini membuahkan hasil dengan dicantumkannya keinginan menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika di bagian terakhir Komunike Konferensi Kolombo.

KONFERENSI BOGOR (Bogor, 28 – 19 Desember 1954)  
Istana Bogor, tempat pertemuan Lima Perdana Menteri Negar Sponsor Konferensi Asia Afrika
Pemerintah Indonesia mengadakan penjajagan ke berbagai negara di Asia dan Afrika. Dari 14 negara yang dijajagi, 12 negara telah memberikan jawaban positif. Mereka setuju konferensi diselenggarakan di Indonesia dan dalam waktu secepatnya.
Atas undangan Perdana Menteri Indonesia, para perdana menteri peserta Konferensi Kolombo (Birma, Ceylon, India, Indonesia, dan Pakistan) mengadakan pertemuan di Bogor. Konferensi Bogor membicarakan persiapan Konferensi Asia Afrika.
Konferensi tersebut berhasil merumuskan kesepakatan tentang tujuan, waktu, tingkat delegasi yang diminta hadir, agenda, dan negara yang diundang dalam Konferensi Asia Afrika.

Suasana Konferensi Bogor
Kelima negara peserta Konferensi Bogor menjadi sponsor dan Indonesia dipilih menjadi tuan rumah pada Konferensi Asia Afrika. Ditetapkan pula Konferensi Asia Afrika akan berlangsung pada akhir minggu bulan April tahun 1955. Soekarno menunjuk Kota Bandung sebagai tempat berlangsungnya konferensi tersebut.
KONFERENSI ASIA AFRIKA (Bandung, 18 – 24 April 1955)
Negara-negara Peserta Konperensi Asia-Afrika :

  1. Afghanistan
  2. Birma
  3. Kamboja
  4. Ceylon
  5. Republik Rakyat Tiongkok
  6. Mesir
  7. Ethiopia
  8. Pantai Emas
  9. India
  10. Indonesia
  11. Iran
  12. Irak
  13. Jepang
  14. Yordania
  15. Laos
  16. Libanon
  17. Liberia
  18. Libya
  19. Nepal
  20. Pakistan
  21. Filipina
  22. Arab Saudi
  23. Sudan
  24. Suriah
  25. Thailand
  26. Turki
  27. Vietnam (Utara)
  28. Vietnam (Selatan)
  29. Yaman

Langkah bersejarah delegasi Indonesia

Sekitar pukul 08.30 WIB, para delegasi dari berbagai negara berjalan meninggalkan Hotel Homann dan Hotel Preanger menuju Gedung Merdeka secara berkelompok untuk menghadiri pembukaan Konferensi Asia Afrika. Banyak di antara mereka memakai pakaian nasional masing-masing yang beraneka corak dan warna. Mereka disambut hangat oleh rakyat yang berderet di sepanjang Jalan Asia Afrika dengan tepuk tangan dan sorak sorai riang gembira. Perjalanan para delegasi dari Hotel Homann dan Hotel Preanger ini kemudian dikenal dengan nama “Langkah Bersejarah” (The Bandung Walks). Kira-kira pukul 09.00 WIB, semua delegasi masuk ke dalam Gedung Merdeka.
Tidak lama kemudian rombongan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta, tiba di depan Gedung Merdeka dan disambut oleh rakyat dengan sorak-sorai dan pekik "merdeka". Di depan pintu gerbang Gedung Merdeka kedua pemimpin Pemerintah Indonesia itu disambut oleh lima perdana menteri negara sponsor.

Presiden Indonesia, Soekarno, menyampaikan pidato Pembukaan
Konferensi Asia Afrika, 18 April 1955
Pada pukul 10.20 WIB setelah diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia : "Indonesia Raya", Presiden Indonesia, Soekarno, mengucapkan pidato pembukaan yang berjudul "Let a New Asia And a New Africa be Born" (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru). Dalam kesempatan tersebut Presiden Soekarno menyatakan bahwa kita, peserta konferensi, berasal dari kebangsaan yang berlainan, begitu pula latar belakang sosial dan budaya, agama, sistem politik, bahkan warna kulit pun berbeda-beda, namun kita dapat bersatu, dipersatukan oleh pengalaman pahit yang sama akibat kolonialisme, oleh ketetapan hati yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia. Pada bagian akhir pidatonya beliau mengatakan :Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita, pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian. Saya berharap, bahwa akan menjadi kenyataan, bahwa Asia dan Afrika telah lahir kembali. Ya, lebih dari itu, bahwa Asia Baru dan Afrika Baru telah lahir!
Pidato tersebut berhasil menarik perhatian dan mempengaruhi hadirin yang dibuktikan dengan adanya usul Perdana Menteri India dan didukung oleh semua peserta konferensi untuk mengirimkan pesan ucapan terimakasih kepada presiden atas pidato pembukaannya.
Pada pukul 10.45 WIB., Presiden Indonesia, Soekarno, mengakhiri pidatonya, dan selanjutnya sidang dibuka kembali. Secara aklamasi, Perdana Menteri Indonesia terpilih sebagai ketua konferensi. Selain itu, Ketua Sekretariat Bersama, Roeslan Abdulgani, dipilih sebagai sekretaris jenderal konferensi.
Sidang konferensi terdiri atas sidang terbuka untuk umum dan sidang tertutup hanya bagi peserta konferensi. Dibentuk tiga komite, yaitu Komite Politik, Komite Ekonomi, dan Komite Kebudayaan. Semua kesepakatan tersebut selanjutnya disetujui oleh sidang dan susunan pemimpin konferensi adalah sebagai berikut :
Ketua Konferensi Ali Sastroamidjojo, Perdana Menteri Indonesia
Ketua Komite Politik Ali Sastroamidjojo, Perdana Menteri Indonesia
Ketua Komite Ekonomi Roosseno, Menteri Perekonomian Indonesia
Ketua Komite Kebudayaan Muhammad Yamin, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Indonesia
Sekretaris Jenderal Konferensi Roeslan Abdulgani, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Indonesia
Dalam sidang-sidang selanjutnya muncul beberapa kesulitan yang bisa diduga sebelumnya. Kesulitan-kesulitan itu terutama terjadi dalam sidang-sidang Komite Politik. Perbedaan pandangan politik dan masalah-masalah yang dihadapi antara Negara-negara Asia Afrika muncul ke permukaan, bahkan sampai pada tahap yang relatif panas.
Namun berkat sikap yang bijaksana dari pimpinan sidang serta hidupnya rasa toleransi dan kekeluargaan di antara peserta konferensi, maka jalan buntu selalu dapat dihindari dan pertemuan yang berlarut-larut dapat diakhiri.

Suasana Sidang Komite Politik di Gedung Dwiwarna

Setelah melalui sidang-sidang yang menegangkan dan melelahkan selama satu minggu, pada pukul 19.00 WIB. (terlambat dari yang direncanakan) tanggal 24 April 1955, Sidang Umum terakhir Konferensi Asia Afrika dibuka. Dalam Sidang Umum itu dibacakan oleh sekretaris jenderal konferensi rumusan pernyataan dari tiap-tiap panitia (komite) sebagai hasil konferensi. Sidang Umum menyetujui seluruh pernyataan tersebut, kemudian sidang dilanjutkan dengan pidato sambutan para ketua delegasi. Setelah itu, ketua konferensi menyampaikan pidato penutupan dan menyatakan bahwa Konferensi Asia Afrika ditutup.

Konsensus itu dituangkan dalam komunike akhir, yang isinya adalah mengenai :

  1. Kerja sama ekonomi;
  2. Kerja sama kebudayaan;
  3. Hak-hak asasi manusia dan hak menentukan nasib sendiri;
  4. Masalah rakyat jajahan;
  5. Masalah-masalah lain;
  6. Deklarasi tentang memajukan perdamaian dunia dan kerja sama internasional.
Deklarasi yang tercantum pada komunike tersebut, selanjutnya dikenal dengan sebutan Dasasila Bandung, yaitu suatu pernyataan politik berisi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.
Dasasila Bandung:
  1. Menghormati hak-hak asasi manusia dan menghormati tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB.
  2. Menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara.
  3. Mengakui persamaan derajat semua ras serta persamaan derajat semua negara besar dan kecil.
  4. Tidak campur tangan di dalam urusan dalam negeri negara lain.
  5. Menghormati hak setiap negara untuk mempertahankan dirinya sendiri atau secara kolektif, sesuai dengan Piagam PBB.
  6. 1. Tidak menggunakan pengaturan-pengaturan pertahanan kolektif untuk kepentingan khusus negara besar mana pun. 2. Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain mana pun.
  7. Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi atau menggunakan kekuatan terhadap keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara mana pun.
  8. Menyelesaikan semua perselisihan internasional dengan cara-cara damai, seperti melalui perundingan, konsiliasi, arbitrasi, atau penyelesaian hukum, ataupun cara-cara damai lainnya yang menjadi pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB.
  9. Meningkatkan kepentingan dan kerja sama bersama.
  10. Menjunjung tinggi keadilan dan kewajiban-kewajiban internasional.


50 Tahun KAA, Perjalanan Menuju Gedung Merdeka
Tanpa terasa, 50 tahun sudah perhelatan akbar yang pernah dilaksanakan bangsa Indonesia, Konferensi Asia Afrika (KAA). Konferensi yang digagas oleh Presiden Soekarno ini dilaksanakan di Bandung pada 18-24 April 1955. Dalam konferensi ini, Soekarno berhasil menyatukan bangsa-bangsa di negara Asia dan Afrika, khususnya dalam perjuangan besar melawan imprealisme dan kolonialisme internasional.
-------------
PENDERITAAN rakyat yang telah dilihat Presiden Soekarno menyebabkan tidak ada toleransi lagi terhadap imprealisme. Tetapi akibat imprealisme ini pula kemudian lahir pemimpin-pemimpin gerakan kemerdekaan di Asia dan Afrika, yang kemudian diajak bersatu oleh Soekarno untuk berjuang melawan imprealisme dan kolonialisme internasional. Dari perhelatan akbar inilah lahir Desa Sila Bandung, yang bergema ke seluruh dunia dan kemudian menjadi dasar bagi Gerakan Nonblok.
Dalam konferensi ini, Soekarno berhasil mengumpulkan 29 negara yang berbeda sistem sosial dan sistem politiknya dan diajak mewujudkan adanya koeksistensi damai. Setelah dilaksanakan konferensi ini, bangsa-bangsa di lingkungan Asia dan Afrika bangkit melakukan gerakan kemerdekaan. Dalam kurun waktu 10 tahun saja (1955-1965), ada 41 negara di Asia yang berhasil memerdekakan diri, salah satunya Singapura. Kemudian antara 1966-1975, ada 24 negara yang merdeka, antara lain Bangladesh dan Papua Nuigini. Selanjutnya 1976-1985, ada 13 negara di Asia dan Afrika yang merdeka, antara lain Brunei Darussalam. Dan pada 1986, antara lain Afrika Selatan dan Palestina berhasil merdeka.

Peninggalan Kolonial
Gedung bersejarah tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika (KAA), sebenarnya merupakan gedung tua yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1895. Pada awalnya gedung ini diberi nama Socitet Concordia (SC), yang difungsikan sebagai tempat rekreasi bagi orang-orang Eropa di Bandung. Setiap akhir pekan atau hari libur, biasanya para pemilik perkebunan yang ada di pegunungan Jawa Barat, beramai-ramai "turun" ke Kota Bandung untuk mencari hiburan. Para preangerplanter yang memiliki perkebunan-perkebunan teh atau kina di Tartar Bandung inilah yang banyak memberikan kontribusi terhadap pembangunan gedung-gedung dengan berbagai gaya yang sedang trend di Eropa saat itu.
Gedung SC tua kemudian dipugar dan dibangunlah gaya klasik romantik, melibatkan arsitek Van Galen dan CP Wolff Schoemaker. Arsitek CP Wolff Schoemaker adalah Guru Besar di Technisce Hoogeschool (ITB), yang pernah memberi kuliah Seni Bangunan dan Sejarah Arsitektur pada Presiden Soekarno saat masih kuliah Technisce Hoogeschool Bandung. Di masa penjajahan Jepang, Gedung SC ini difungsikan sebagai gedung pusat kebudayaan yang diberi nama Dai Toa Kaikan. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini tetap dirawat dengan baik dan diberi nama Gedung Merdeka oleh Presiden Soekarno menjelang berlangsungnya KAA di Bandung pada 1955.
Kesuksesan KAA yang mengharumkan nama bangsa Indonesia di dunia internasional menyebabkan jalan yang ada di depan Gedung Merdeka Bandung kemudian diganti menjadi Jl. Asia Afrika. Di zaman kolonial, jalan ini bernama Grote Postweg atau Jalan Pos, yang dibuat pada 1809 di masa pemerintahan Gubernur Jederal Herman Willm Daendels, mulai dari Anyer (Jawa Barat) sampai di Panarukan (Jawa Timur).

Museum KAA
Menjelang peringatan KAA ke-25, sebagian dari Gedung Merdeka digunakan sebagai Museum KAA. Pembuatan museum ini diprakrasai oleh Presiden Suharto. Pelaksanaan pembuatan museum ini diserahkan kepada Departemen Luar Negeri RI, saat dipimpin oleh Mochtar Kusumaatmaja. Sedangkan konsultan perencana museum ini dipercayakan kepada Decenta Grup. Museum KAA kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada peringatan KAA ke-25, 25 April 1980 di Bandung.
Museum KAA ini ditempatkan di sisi timur bagian depan Gedung Merdeka. Di dalam museum ini dapat disaksikan miniatur Ruang Konferensi yang diberi dinding kaca, karena tidak boleh dimasuki tanpa izin. Miniatur Ruang Konferensi ini didesain menyerupai suasana ruang konferensi pada saat KAA berlangsung, seperti ada meja dan kursi sidang, mimbar, kursi peserta, bendera 29 negara peserta dan kamera film yang pernah digunakan untuk meliput KAA.
Kecuali Ruang Konferensi yang berdinding kaca, sebagian besar Museum KAA didesain dengan pemajangan materi secara terbuka (landascape). Dengan desain seperti ini, pemajangan materi dan sirkulasi ruangnya terkesan mengalir, sehingga pengunjung bisa mengikuti display materi dengal alur proses dan aktivitas KAA, serta materi-materi penunjangnya. Setelah miniatur Ruang Konferesi, dapat dilihat materi proses terselenggaranya KAA, dimulai dari display Konferensi Colombo pada 28 April - 2 Mei 1954 untuk membahas perlu tidaknya KAA sebagai tindak lanjut Pertemuan Tugu pada Maret 1954 yang memunculkan gagasan penyelenggaraan KAA.
Setelah ada komunike bersama Perdana Menteri Indonesia, Birma, Ceylon (Srilanka), India dan Pakistan, bahwa KAA perlu dilaksanakan, maka dilakukan Konferensi Bogor pada 28-29 Desember 1954. Selanjutnya dapat disaksikan display peta dunia yang besar pada dinding ruang, yang memperlihatkan letak ke-29 negara peserta KAA dan ditunjang daftar nama-nama anggota delegasi.
Selain itu juga ada display persiapan KAA, kedatangan para delegasi, proses langkah-langkah bersejarah, pidato pembukaan KAA oleh Presiden Sukarno, suasana sidang dan teks berbunyi "Asia Afrika Bergema dari Bandung". KAA yang menghasilkan Dasa Sila Bandung (DSB), kemudian ke-10 butir uraian DSB tersebut dibuatkan displaynya pada dinding mamer hitam dengan teks berwarna emas. Monuman DSB juga dibuat di halaman Hotel Savoy Homan yang ada di dekat Gedung Merdeka, sebab di hotel inilah sebagian besar anggota delegasi KAA menginap.
Selain memperlihatkan suasana resmi di luar dan di dalam ruang sidang, terdapat juga pajangan foto-foto suasana nonformal dalam kegiatan KAA. Materi penunjang KAA yang dipajang pada museum, antara lain beberapa kliping berita koran maupun lembaran-lembaran koran, yang memuat dan berpartisipasi dalam KAA. Selain itu ada juga pajangan beberapa mesin ketik yang digunakan oleh panitia pelaksana KAA. Termasuk juga satu set kursi anyaman rotan yang sempat diduduki kepala negara peserta KAA. Di samping itu juga dipajang dokumentasi kegiatan pada saat berlangsung Peringatan KAA ke-25 pada 1980.

Monumen Arsitektur
Setelah digunakan sebagai tempat penyelenggaran KAA, Gedung Merdeka ini juga sempat digunakan sebagai Kantor Konstituante antara kurun 1957-1959. Saat itu di Jakarta tidak ada gedung-gedung besar untuk kegiatan parlemen. Konstituante kemudian dibubarkan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presidet 5 Juli 1959, karena tidak berhasil melaksanakan tugasnya.
Setelah digunakan sebagai Kantor Konstituante, Gedung Merdeka kemudian sempat digunakan sebagai Kantor Majelis Permusyawaratan Sementara (MPRS) pada 1961. Dan pada 1965 digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Islam Asia Afrika.
Meskipun Gedung Merdeka merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda, tetapi gedung ini menyimpan sejarah penting bagi bangsa Indonesia dan bangsa-banga di Asia Afrika. Karena itu, Gedung Merdeka patut dijaga kelestariannya. Keindahan gedung bergaya Klasik Romantik karya Van Galen dan CP Wolff Schoemaker ini juga layak didokumentasikan sebagai monumen arsitektur. Gedung ini merupakan salah satu gedung penting yang menjadi mata rantai sejarah arsitektur di Indonesia di samping merekam sejarah penting bagi bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di Asia Afrika.
Sejak zaman kolonial Belanda, gedung ini memang sudah digunakan sebagai gedung pertemuan eksklusif, hingga di zaman kemerdekaan gedung ini juga masih digunakan sebagai gedung untuk kegiatan penting di Indonesia, bahkan untuk kegiatan bertaraf internasional. Inilah gedung yang memiliki sejarah panjang, dari Gedung Sositet Concordia sampai Gedung Merdeka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar